Categories
Parenting

Diajarkan Peduli “Bahaya”

Caranya, menurut Alfa, dengan bersikap konsisten saat memberitahu anak bahwa hal yang ia lakukan adalah berbahaya. Sesekali, gunakan media seperti buku cerita atau film untuk mengajari si batita tentang hal yang boleh dan aman untuk ia lakukan. “Sering kali saya harus menahan mulut saya sendiri untuk tidak selalu berkata, ‘Awas jatuh!’ ketika melihat Rafa bermain. Saya belajar dari saudara kembar saya yang beranak 4 orang.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Yang paling penting adalah berada di sekitar anak dan siap menjaganya dari bahaya, bukan dengan berteriak-teriak mencegah anak jatuh dan sebagainya. Teriakan kita justru membuat anak berhenti melakukan kegiatannya dan ia tidak belajar apa-apa,” Mama Nia menceritakan pengalamannya. Kita juga bisa membantu membuktikan rasa penasaran mereka melalui aktivitas sehari-hari di rumah. Contoh, Mama ingin mengajari anak untuk berhati-hati terhadap alat dapur yang tajam.

Ajaklah si kecil memasak bersama, tunjukkan betapa mata pisau itu hebat dalam membelah dan memotong sesuatu, sampai-sampai kita harus berhati-hati ketika menggunakannya. Lalu, jika si batita penasaran dengan sambal di atas meja dan kenapa orangtua menyukainya, ajari ia mengenal rasanya secara bertahap. Mulailah dengan cabai merah besar yang kaya akan vitamin C, tentu, dalam potongan yang sangat kecil.

Secara bertahap ia akan tahu bagaimana rasa cabai rawit yang benarbenar membakar lidah, dan ia boleh menentukan: apakah ia akan menyukai cabai atau tidak. Selain lewat aktivitas bermain, kejar-kejaran, permainan air, tunjukkan bahwa bermain itu mengasyikkan, namun juga harus berhati-hati. Intinya adalah pendampingan dan konsistensi. Jangan pernah tinggalkan anak sendirian dan jangan berhenti memberitahu meskipun ia menjadi tantrum.

Alfa menegaskan, “Saat mendampingi anak bereksplorasi, penting bagi orangtua untuk fokus kepada anak dan tidak sambil mengerjakan tugas lainnya.” Hal yang sama juga berlaku untuk orang lain yang mengasuh anak, baik pengasuh maupun anggota keluarga lainnya. Kita perlu menerapkan aturan yang jelas pada pengasuh atau keluarga lainnya tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh anak lakukan, selanjutnya memberikan contoh kepada mereka dengan konsisten.

Ketika sedang mendampingi anak, mereka pun tidak boleh melakukannya sembari mengutak-atik gawai, misalnya. Yang paling baik, antara orangtua, pengasuh, dan anggota keluarga lainnya adalah konsisten memberikan batasan pada anak mengenai hal-hal yang boleh dieksplorasi dan mana yang tidak, agar si anak pun bisa menampilkan tingkah laku yang konsisten.

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *