Categories
Berita

SIM Wajib Di Miliki Semua Orang

Penyanyi yang ragu akan kualitas mikrofon di tangannya. Ketika saya buka lema ”tes” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, muncullah arti ”1 ujian tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seseorang”. Jadi, kata ”tes” untuk mencoba mikrofon dan sound system sangat tidak tepat.

Untuk arti ”tes” yang kedua (”2 percobaan untuk menguji kelaikan jalan suatu kendaraan bermotor umum”) kelihatan agak tepat. Tapi itu khusus untuk kendaraan bermotor umum, bukan untuk perangkat penghantar suara. Maka yang lebih pas para MC atau kru sound system mengulangulang kata ”cek… cek… cek…”. Kekacauan penggunaan istilah juga dilakukan lembaga resmi pemerintahan.

Kekacauan istilah itu sudah sangat lama terjadi. Namun tidak pernah ada upaya untuk merevisi atau menggantinya dengan istilah yang benar. Hingga kini, masyarakat yang menyetir kendaraan harus membawa SIM: surat izin mengemudi. Kalau tidak membawa, harus siap-siap ditilang oleh polisi lalu lintas. Bagi yang punya SIM, silakan ambil dari dompet. Keluarkan.

Perhatikan dengan saksama benda bernama SIM itu. Dari bentuk fisiknya, SIM yang kita punya itu lebih tepat disebut ”surat” atau ”kartu”? Kartu, bukan? Maka seharusnya pihak Polri segera mengganti SIM dengan KIM (kartu izin mengemudi). Kalau Polri keberatan dan keukeuh menggunakan istilah SIM, konsekuensi bahasanya, SIM jangan dirupakan kartu, tapi diganti dengan lembaran kertas, sesuai dengan namanya: surat izin mengemudi.

Jamaknya, yang namanya surat itu ditulis di lembaran kertas, bukan di kartu. Polri jangan malu meniru Kementerian Dalam Negeri yang menerbitkan KTP, yang sesuai dengan namanya, kartu tanda penduduk, dicetak dalam bentuk kartu. Jangan ”surat izin mengemudi” dicetak dalam bentuk kartu. Namun sejatinya Kementerian Dalam Negeri idem ditto dengan Polri: melakukan kerancuan istilah. Selain di KTP, nama setiap warga negara harus tercantum dalam ”kartu keluarga”, yang lazim disingkat KK.

Sekali lagi saya ajak, mari bersama-sama memeriksa ulang, seperti apa bentuk fisik KK yang kita miliki. Ternyata bentuknya lembaran, bukan? Berupa secarik kertas, bukan kartu. Lebih tepat disebut ”surat keluarga” (SK) daripada ”kartu keluarga”. Penggunaan kata dan istilah yang rancu memang tidak akan sampai menimbulkan kepunahan. Namun, dengan menggunakan kata dan istilah secara benar, kita ikut memagari marwah bahasa nasional. Tak terkecuali lembaga-lembaga negara, jangan ragu dan malu untuk mengganti kata atau istilah yang salah dalam produk kebijakannya.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *