Categories
Berita

Presenter Sekaligus Desainer Interior

Perjalanan karier Aghnia Fuad memang terbilang baru seumur jagung. Ia memulainya dengan menerima tawaran sebagai pembawa acara sekaligus desainer interior pada salah satu program di televisi swasta. Tawaran yang ia ambil sesaat setelah sidang mahasiswa tingkat akhir tersebut seakan menjadi gerbang awal kariernya dalam menapaki dunia desain interior. Tak pernah ia sangka sebelumnya bahwa acara tersebut mendapat respon positif dari beberapa pihak.

“Cukup banyak penonton yang meminta saya menjadi desainer rumah mereka dan mereka jadi klien saya, contohnya beberapa rumah di Bintaro,” cerita perempuan kelahiran 1992 ini. Jam terbangnya yang masih baru sebagai desainer interior itupun kerap membuatnya dilanda rasa tak percaya diri. “Kadang saya berpikir, ‘percaya enggak, sih, mereka sama saya?’

Tapi, dengan berjalannya waktu saya jadikan itu sebagai tantangan untuk saya. Saya semakin yakin dengan apa yang saya jalani karena sudah mempelajari ini semasa kuliah dan bertemu dengan orang-orang baru yang membuat saya belajar, ’’ ujarnya saat ditemui di kediamannya. Hal ini pun terbukti dengan semakin banyaknya tawaran pekerjaan yang datang menghampirinya. Salah satunya ialah menjadi juri pada ajang nippon paint young designer award indonesia 2015.

Pengalaman Menjadi Juri

Saat ditanya bagaimana perasaannya ditunjuk menjadi juri pada ajang tersebut, Ghina— sapaan akrab Aghnia—mengaku sangat kaget. “Saya nanya balik ke mereka, yakin mengajak saya? Kenapa mengajak saya yang bisa terbilang sangat baru di dunia desain interior?” ujarnya. Lantas, pihak yang menggandengnya untuk menjadi juri itu pun menjawab bahwa mereka yakin dengan kemampuannya dan tertarik dengan public speaking Ghina.

Mendengar jawaban tersebut, Ghina pun mengamini ajakan menjadi juri. Ia melihat bahwa ini adalah kesempatan baik yang tak boleh dilewati begitu saja. “Saya tidak mau menutup kemungkinan apa pun dan kesempatan apa pun, dan enggak mau takut walaupun ini menjadi hal yang sangat baru buat saya,” ujar perempuan berambut cokelat ini. Pada ajang ini, ia menilai hampir 200 peserta dalam waktu 2 minggu. Para peserta didominasi oleh mahasiswa.

“Saya antusias dan apresiasi sekali terhadap keberanian mereka, sebab mempersiapkan itu pasti tidak mudah. Desainnya pun sangat variatif sekali dan banyak desain yang sudah sangat siap,” ujarnya menambahkan. Pengalamannya menjadi juri ini pun mempertemukan dirinya dengan juri lainnya yang sudah senior dan profesional di bidangnya. Mulai dari Grace Hartanti, Ibam Araf Bastaman, David I Tay, dan Fendarie Su Pek Fuang dari Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *